Matematika dan Pembelajarannya: Untuk Apa dan Untuk Siapa?

March 20, 2009 at 4:45 am 3 comments

Oleh: Edi Cahyono *)

Selasa, 3 Maret yang lalu saya membawakan materi yang judulnya sama dengan tulisan ini pada acara “Pekan Matematika Regional II”, diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unhalu. Pesertanya adalah beberapa guru matematika dan siswa-siswi tingkat SMP dan SMA se-Sultra.

Saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Bapak Rektor Unhalu untuk mewakili beliau membawakan materi pada acara ini. Juga atas diperkenankannya bahwa saya dapat memilih materi sesuai bidang keahlian saya, dan sesuai tema acara.

Dari pembicaraan dan diskusi terungkap bahwa banyak guru tidak puas dengan penguasaan matematika oleh siswa-siswinya. Diskusi tersendat, sepertinya semua berpikir saat membahas tentang pada bagian matematika mana penguasaan siswa-siswi kita lemah. Semakin tersendat lagi ketika membahas yang berikut: Mengapa harus belajar matematika pada saat kita sekolah/kuliah? Untuk apa? Apakah semua harus belajar matematika? Bukankah tidak banyak dari kita yang akan menjadi guru/dosen matematika, apalagi menjadi seorang matematikawan?

Mari kita mulai untuk mencari jawaban dari “Untuk apa matematika itu?” Untuk membahas ini, marilah kita cermati hasil survey yang dilakukan di Amerika Serikat yaitu “Tamatan sekolah menengah yang berkemampuan matematika tinggi memiliki karir yang lebih bagus.” Lebih jauh lagi, Society of Industrial and Applied Mathematics (SIAM), komunitas matematikawan untuk penerapan dan industri yang juga di Amerika Serikat melaporkan bahwa penggunaan matematika di industri berkembang pesat, matematikawan memberi kontribusi pada keunggulan teknis, dan penghematan biaya melalui pemodelan matematika, analisis matematika dan perhitungan numerik.

Dari sini secara implisit di Amerika Serikat telah dirasakan/disadari bahwa matematika bukan hanya untuk guru/dosen matematika atau matematikawan.  Walaupun di sisi lain di sana pun masih dirasakan lemahnya penguasaan matematika. Hal ini yang menginspirasi John Allen Paulos (seorang profesor matematika) menulis buku berjudul “Innumeracy: mathematical illiteracy and its consequences”, diterbitkan oleh Hill and Wang, New York tahun 2001.     Belakangan ini majalah The Economist menuliskan artikel “Innovation in  America: A gathering storm” yang sudah saya singgung pada tulisan terdahulu (Kendari Pos, 12 Desember 2008). Dikatakan pada artikel tersebut bahwa banyak pebisnis di Amerika khawatir kalah dalam inovasi melawan Cina dan India. Khususnya, mereka khawatir karena India dan Cina telah berinvestasi banyak dalam mengajar generasi mudanya dengan matematika dan sains, juga dalam riset ilmiah tingkat lanjut (advanced scientific research).

Bagaimana halnya dengan di Indonesia? Indonesian Mathematical Society (Perhimpunan yang beranggotakan para ahli matematika di Indonesia), secara bertahap juga telah melakukan sesuatu. Secara khusus, tim dosen pada Jurusan Matematika FMIPA Universitas Haluoleo secara bertahap melakukan sesuatu untuk terus mengembangkan dan meningkatkan penerapan matematika, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk masyarakat luas.

Beberapa minggu yang lalu saya dihubungi bagian penerbitan Journal of Quantitative Methods bahwa salah satu artikel kami sedang dalam proses penerbitan. Jurnal ilmiah ini berbasis di Malaysia, dan memuat artikel-artikel hasil riset pengembangan metode kuantitatif terutama untuk ekonomi, bisnis, keuangan dan industri. Dalam artikel ini (hasil kolaborasi dengan Dr. M. Ridwansyah, S.E. M.S, seorang ahli ekonomi dari Universitas Jambi) kami mengajukan metode kuantitatif untuk mengoptimumkan pertumbuhan ekonomi suatu daerah dengan keterbatasan investasi maupun anggaran pemerintah.

Bersamaan dengan itu seorang teman Dr. Ir. Joko Siswanto, MPA., seorang doktor di bidang sumber daya manusia dari Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) dan pendiri PT Adiguna Bumisatya juga menghubungi saya. Dia tertarik untuk mengembangkan metode kuantitatif guna mengoptimalkan penempatan para pegawai pada posisi/jabatan yang tepat di suatu organisasi yang besar. Hal ini dikarenakan metode yang ada dirasa sudah tidak cukup lagi untuk mengatasi persaingan bisnis perusahaan-perusahaan besar yang semakin keras.     Metode-metode kuantitatif (yang diperlukan pada ekonomi dan bisnis) ini dikembangkan berdasarkan matematika. Bahkan sebagai matematika, beberapa telah diajarkan di tingkat SMA maupun S1.

Semoga kedua metode kuantitatif contoh di atas dapat menjawab petanyaan “Untuk apa matematika dan pembelajarannya?” Yaitu salah satunya untuk efisiensi dan optimasi. Tentunya masih banyak contoh yang lain, salah satunya bagaimana optimasi sumber daya di Sultra agar dicapai pertumbuhan ekonomi yang optimum. Hal ini agar Sultra tidak lagi menjadi salah satu propinsi termiskin di suatu negara miskin. Jurusan Matematika FMIPA Unhalu menjadikan hal ini sebagai salah satu fokus pengembangannya dalam semboyan yang digunakan, “Mathematics Unhalu, mathematics for better living.”

Kalau kegunaan matematika seperti yang telah dicontohkan di atas, lalu untuk siapa matematika dan pembelajarannya? Pada contoh di atas, matematika diperlukan oleh seorang rekan yang doktor dan ahli ekonomi dari Universitas Jambi, karena dia harus bersama-sama kami mengembangkan metode kuantitatif. Matematika juga diperlukan oleh rekan lainnya, seorang doktor dan ahli manajemen sumber daya manusia dari Teknik Industri ITB. Karena dia dan kami akan mengembangkan metode kuantitatif untuk optimalisasi penempatan pegawai. Saya percaya masih banyak ahli di berbagai bidang yang memerlukan matematika, seperti teknik, industri, keuangan dan lain-lain.

 

Merangkum dari tulisan ini, matematika dan pembelajarannya perlu untuk para ahli yang di dalam pekerjaan profesionalnya memerlukan analisis kuantitatif, seperti ekonomi dan keuangan, industri dan teknologi. Tidak dapat dilupakan juga tentunya untuk guru/dosen matematika dan matematikawan sendiri. Sedangkan kita memerlukan matematika untuk meningkatkan banyak aspek kehidupan, mulai dari ekonomi dan keuangan, sampai pada industri dan teknologi. Perhatikan daya saing negara-negara maju, banyak hal didasarkan pada analisis kuantitatif. Dalam hal ini berlaku mathematics for better living. (***)

*) Doktor Matematika Terapan dari Universiteit Twente, Belanda
Dosen dan Peneliti Penerapan-penerapan Matematika di Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri pada Jurusan Matematika FMIPA Unha
lu

Entry filed under: Artikel Prof. Dr. Edi Cahyono. Tags: .

Membawa Matematika FMIPA Unhalu Membumi di Wilayah Sendiri dan Bersinar di Tempat Lain Pertahanan Keuangan Indonesia

3 Comments Add your own

  • 1. WiLe  |  May 14, 2009 at 11:01 am

    binun cari artikel dan hasil survey kalo math tu sulit….
    Help me!!!!

    Reply
  • 2. FitRi mauLId  |  June 3, 2009 at 9:57 am

    sa senang sekali dengan pak edy…
    tapi sa takut juga pa’
    wkwkwkwkw
    sukses buat bapak :)

    Reply
  • 3. suwarno  |  January 27, 2010 at 1:16 am

    Pak saya pengen bertanya, aya sekarng dalam pembuatan skripsin an saya butuh buku yang membicaraan yentang teori pnguasaan matematika, ada gak ya pak? Tolog saya pak

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

March 2009
M T W T F S S
    Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.