Membawa Matematika FMIPA Unhalu Membumi di Wilayah Sendiri dan Bersinar di Tempat Lain

March 19, 2009 at 10:28 am 4 comments

Oleh: Edi Cahyono *)

BEBERAPA waktu yang lalu saya membaca artikel berjudul “Inovation in America: A gathering storm” pada majalah The Economist, salah satu bacaan wajib di bidang ekonomi dan bisnis dunia. Dikatakan pada artikel tersebut bahwa banyak pebisnis di Amerika khawatir kalah dalam inovasi melawan Cina dan India. Khususnya, mereka khawatir karena India dan Cina telah berinvestasi banyak dalam mengajar generasi mudanya dengan matematika dan sains, juga dalam riset ilmiah tingkat lanjut (advanced scientific research). India dan Cina mulai mengoyahkan dominasi Amerika dalam hal inovasi.
Setelah membaca ini saya berpikir dan merenung lagi “Sebagai seorang dosen dan peneliti, apa yang sudah saya perbuat khususnya di tempat kerja saya Jurusan Matematika FMIPA Unhalu”. Saya mulai menghubungkan apa yang sudah saya (baca ‘kami para dosen di Jurusan Matematika’) perbuat, sedang saya perbuat dan rencana ke depan yang bisa dilakukan. Keterkaitan ini bukan hanya dalam rentangan waktu (sudah, sedang dan akan), melainkan juga keterkaitan matematika dengan bidang lain dan aplikasi dalam kehidupan nyata. Beberapa catatan saya tentang hal ini adalah sebagai berikut:

Matematika masih merupakan mimpi buruk
Bagi sebagian besar orang, kalau tidak dikatakan semua orang, matematika masih merupakan mimpi buruk. Matematika lebih banyak dianggap sebagai batu sandungan daripada sebagai batu lompatan. Matematika dihindari oleh banyak siswa, mahasiswa bahkan mahasiswa pasca sarjana. Banyak siswa dan mahasiswa prestasinya kurang memuaskan pada ilmu yang terkait dengan matematika. Hal ini menimbulkan anggapan bahwa matematika hanya untuk orang berbakat. Anggapan ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara setingkat Amerika Serikat kata John Allen Paulos seorang profesor matematika dalam bukunya yang berjudul “Innumeracy: mathematical illiteracy and its consequences”, diterbitkan oleh Hill and Wang, New York tahun 2001.
Memang betul ada orang, siswa atau mahasiswa yang memiliki bakat matematika lebih tinggi daripada yang lain. Hal ini sama saja dengan bidang-bidang lain, ada orang, siswa atau mahasiswa yang mempunyai bakat menyanyi lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain. Ada orang yang memiliki suara ‘emas’, ada juga yang ala kadarnya. Namun demikian, seringkali kita mendengar orang-orang tersebut menyanyi menirukan lagu yang bersuara emas. Kadang kala, walaupun dengan nada sumbang kita juga menyanyi, bukan?
Matematika yang diajarkan masih seperti 300 tahun yang lalu
Sebagian besar dari kita ‘terpaksa’ harus belajar matematika saat kita sekolah, atau kuliah. Sebagian dari kita masih ingat kita dipaksa belajar fungsi, turunan fungsi maupun integral fungsi yang lambangnya seperti cacing. Kita terpaksa belajar kalkulus.
Konsep integral dimulai sejak ratusan tahun sebelum masehi oleh orang-orang Yunani. Dalam perkembangannya mencapai kesempurnaan dalam bentuk Kalkulus pada tahun 1700an atas kontribusi khususnya Newton dan Leibniz. Kalkulus inilah yang sering ‘dipaksakan’ diajarkan pada kita, kalkulus 300 tahun yang lalu.
Ada dua hal yang bisa kita catat. Pertama, kita tidak akan pernah menang dibandingkan Newton dan Leibniz (almarhum) yang hidup 3 abad sebelum kita. Kedua, tanpa melihat relevansinya dengan kondisi sekarang di tempat kita, kita tidak tahu apa manfaat belajar kalkulus. Sayangnya, pembelajaran ini telah dilakukan turun-temurun.

Inovasi matematika, matematika untuk inovasi
Sekedar pengalaman saya mengajarkan matematika ekonomi. Banyak mahasiswa yang sudah punya posisi di suatu badan atau dinas. Kepada para mahasiswa saya ajukan pertanyaan “Apa yang diingikan pemerintah daerah tentang PAD (Pendapatan Asli Daerah)”. Jawabannya adalah PAD yang tinggi. Kemudian, diskusi berlanjut tentang bagaimana cara-cara meningkatkan PAD. Selanjut sampai pada pertanyaan, bagaimana kalau PAD dipungut terlalu tinggi? Apakah pengusaha akan tetap berivestasi atau pindah ke daerah lain? Kalau para pengusaha pindah ke daerah lain, maka penyumbang PAD akan semakin sedikit. Dan, PAD yang terkumpul semakin kecil.
Kesimpulan saya di kuliah itu adalah mencari PAD maksimum berdasarkan besarnya yang dipungut dan banyaknya pengusaha yang tidak lari ke daerah lain adalah masalah matematika, di tingkatan Kalkulus. Kesimpulan ini mungkin juga dapat menjelaskan yang berikut. Dua minggu lalu seorang rekan Doktor Ekonomi dari Universitas Jambi, Muhammad Ridwansyah telepon saya. Dia, yang biasa menangani kegiatan bidang ekonomi di tingkat nasional dengan Bappenas maupun PT Sucofindo, kaget dengan temuan riset mahasiswa S2 bimbingannya. Temuan itu adalah adanya hubungan negatif antara PAD dan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), semakin tinggi PDRB semakin rendah PAD. Dr. M. Ridwansyah menanyakan pandangan matematika saya tentang temuan itu. Kedua contoh ini merupakan inovasi matematika biarpun sudah berumur ratusan tahun tetapi digunakan untuk menyelesaikan masalah masa kini, masalah yang ada di sekitar kita.

Matematika FMIPA Unhalu yang khas dan membumi
Tidak ada artinya suatu kehebatan kalau tidak mampu menyelesaikan permasalahan di sekitarnya, inti alinea pertama tulisan ini. Tidak ada artinya kehebatan Amerika menang secara militer di mana-mana kalau akhirnya dikalahkan India dan Cina secara ekonomi di negaranya sendiri. Apa yang terjadi dengan IBM? Orang darimana programmer-programmer di Microsoft?
Tidak ada artinya suatu kehebatan kalau tidak mampu menyelesaikan permasalahan di sekitarnya. Hal ini juga berlaku untuk Matematika FMIPA Unhalu. Bagi kami matematika hanyalah alat untuk menyelesaikan masalah di sekitar kita. Masalah utama kita adalah Sultra merupakan salah satu provinsi TERMISKIN di negara Indonesia yang MISKIN. What can we do? Apa yang bisa kita perbuat?
Menyadari akan masalah ini pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan oleh tim dosen Matematika Unhalu fokus pada bagaimana membantu penyelesaian masalah ini. Mahasiswa diajak, dibiasakan menyadari masalah di sekitarnya. Mahasiswa diajak berpikir, merumuskan dan ke depan diharapkan mampu menggunakan matematika untuk membantu menyelesaikan masalah di sekitarnya. Mahasiswa melalui proses ini saat mengerjakan Tugas Akhir atau skripsi dan dipersiapkan melalui kuliah-kuliah pendahuluannya.
Karena masalah yang dihadapi ini unique bisa berbeda di banding di tempat lain, maka kurikulum matematika yang dibangun juga harus unique, khas yang menunjukkan kekhasan Matematika Unhalu di antara Jurusan Matematika pada perguruan tinggi – perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Kekhasan ini harus dibangun sendiri, dan tidak ada jalan lain selain melalui riset. Kurikulum berbasis riset. Patut disyukuri bahwa Matematika Unhalu sebagai jurusan yang masih kecil memperoleh 5 proyek riset dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada tahun ini dan diharapkan meningkat menjadi 6 proyek tahun depan.
Semua riset yang dilakukan berupa penerapan dan pengembangan matematika untuk menyelesaikan masalah lokal. Sebagai contoh penerapan matematika untuk pemanenan hutan secara optimum dan berkelanjutan yang dijalankan bekerjasama dengan dosen ahli kehutanan. Penerapan matematika untuk optimasi budidaya udang bekerjasama dengan dosen ahli biologi hewan. Matematika difusi bekerjasama dengan ahli dari ITB dan Politeknik Negeri Semarang. Topik difusi diperlukan pada proses pengeringan kayu, pengeringan beton, difusi garam pada tambak udang, bahkan pada portofolio investasi lanjut.
Tidak ada satupun riset matematika terapan yang terlepas dari komputer. Diharapkan kita juga mandiri dalam pengembangan software untuk riset matematika terapan. Riset pada pengembangan software ini juga menjadi perhatian. Kerjasama jarak jauh (long arm collaboration) terus dilakukan dengan ahli ilmu komputer yang sangat terkenal di dunia, Dr. David Taniar dari Monash University Australia.
Namun demikian, untuk percepatan pengembangan lebih lanjut diperlukan komitmen dan kerjasama semua pihak secara terus-menerus. Pihak-pihak tersebut antara lain pimpinan, para dosen, staf dan mahasiswa di Jurusan Matematika FMIPA Unhalu, pimpinan FMIPA dan Universitas Haluoleo serta unit-unit terkait, juga tidak kalah pentingnya pemerintah baik pusat maupun daerah. Dengan kesinergian kerjasama dalam menyadari masalah di sekitar kita dan usaha menyelesaikannya, ke depan diharapkan dengan percaya diri kita menunjukkan kekhasan Matematika Unhalu untuk kehidupan yang lebih baik. Mathematics Unhalu, Mathematics for Better Living. (***)

*) Doktor Matematika Terapan dari Universiteit Twente, Belanda
Dosen dan Peneliti Penerapan-penerapan Matematika di Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri pada Jurusan Matematika FMIPA Unhalu

Entry filed under: Artikel Prof. Dr. Edi Cahyono. Tags: .

Rupiah dan Resesi Ekonomi Dunia Matematika dan Pembelajarannya: Untuk Apa dan Untuk Siapa?

4 Comments Add your own

  • 1. Pet saputra  |  October 16, 2009 at 8:43 am

    Kalau bisa artikel mengenai perekonomian indonesia di poskan juga.

    Reply
  • 2. siti  |  April 29, 2011 at 2:58 am

    artikel nya sungguh menkjubkan ulasannya. sy sangat tertarik. tlng beri pencrhana, berhubung sy menekuni bid.linguistik, sudilah kiranya bapak menjelaskan jg penerpan matematika dlm bid.linguistik. sy sangat tertarik.mhn bantuannya pak. trmksh

    Reply
    • 3. siti  |  April 29, 2011 at 3:10 am

      yth.Pak Edi. sekali lagi, saya sangat tertrik dg tulisan bapak.timbulpertanyaan pd diri sy yg blm mampu sy jawab,shg smpsi knpun proposal sy msh terbengkalai. (mungkinkah ada manfaat atau penerapan kalkuls predikat dlm linguistik). sy menekuni bid.linguistik. trmksh

      Reply
  • 4. Angga  |  November 26, 2011 at 8:33 am

    Artikel yg mengidukations. Good

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

March 2009
M T W T F S S
    Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.